Konsep Pendidikan Moral Imam Al-Ghazali

Al-Ghazali, seorang cendekiawan muslim pada abad ke-11, memiliki konsep pendidikan moral yang memiliki banyak kesamaan dengan filsuf Yunani, terutama Plato dan Aristoteles.

Seperti Plato, Al-Ghazali memandang bahwa pendidikan moral sejak dini harus dimulai, karena pada usia tersebut anak-anak memiliki kecenderungan untuk menyerap nilai-nilai dan sikap yang akan membentuk karakter mereka di masa depan, khususnya pendidikan dalam keluarga. Selain itu, seperti Aristoteles, Al-Ghazali juga menekankan pentingnya kebiasaan dalam membentuk karakter moral, dan bahwa kebiasaan yang baik dapat diperoleh melalui praktek yang terus-menerus.

Namun, ada beberapa perbedaan antara konsep pendidikan moral Al-Ghazali dengan filsuf Yunani. Salah satu perbedaan terbesar adalah bahwa Al-Ghazali menempatkan ajaran Islam sebagai dasar dari pendidikan akhlak atau moral, sementara Plato dan Aristoteles tidak berfokus pada agama tertentu dalam konsep pendidikan moral mereka.

Baca juga: Pengertian Perasaan Moral dalam Pendidikan Karakter

Selain itu, Al-Ghazali juga menekankan pentingnya tujuan akhir dari pendidikan moral, yaitu mencapai kebahagiaan dan keselamatan di akhirat, sementara Plato dan Aristoteles lebih fokus pada kebahagiaan yang dapat dicapai di dunia ini.

Sumber Konsep Pendidikan Moral

Ada perbedaan sumber terkait pendidikan moral atau akhlak antara Al-Ghazali dengan filsuf Yunani, terutama Plato dan Aristoteles

Perbedaan utama antara konsep pendidikan moral Al-Ghazali dengan Plato dan Aristoteles terletak pada dasar dari pendidikan moral itu sendiri. Al-Ghazali menempatkan ajaran Islam (baca: al-Quran dan Hadits) sebagai dasar dari pendidikan moral, sedangkan Plato dan Aristoteles tidak berfokus pada agama tertentu dalam konsep pendidikan moral mereka.

Al-Ghazali meyakini bahwa ajaran Islam memberikan panduan dan prinsip-prinsip moral yang tepat untuk diikuti oleh individu dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan moral haruslah didasarkan pada ajaran Islam, karena hanya dengan demikian individu akan dapat mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Sementara itu, Plato dan Aristoteles lebih memusatkan perhatian pada pengetahuan dan kemampuan rasional individu dalam mengembangkan moralitasnya. Mereka berpendapat bahwa moralitas adalah hasil dari pemikiran dan pertimbangan manusia yang bijak, serta dapat dikembangkan melalui pendidikan dan latihan.

Dalam hal ini, perbedaan pendekatan antara Al-Ghazali dan Plato serta Aristoteles terletak pada sumber kebenaran moral. Al-Ghazali memandang bahwa sumber kebenaran moral terletak pada ajaran Islam, sedangkan Plato dan Aristoteles memandang bahwa sumber kebenaran moral terletak pada kemampuan rasional manusia.

Tujuan Konsep Pendidikan Moral

Sebagaimana sumber atau dasar pendidikan moral, dalam hal tujuannya atau goal dari pendidikan moral ini terdapat perbedaan mendasar antara Al-Ghazali dengan filsuf Yunani di atas.

Al-Ghazali menekankan bahwa tujuan akhir dari pendidikan moral adalah mencapai kebahagiaan dan keselamatan di akhirat. Dalam pandangan Al-Ghazali, dunia ini adalah tempat sementara yang tidak kekal, dan kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai di akhirat. Oleh karena itu, pendidikan moral harus membimbing manusia untuk memperoleh kebahagiaan dan keselamatan di akhirat dengan cara yang benar.

Di sisi lain, Plato dan Aristoteles lebih fokus pada kebahagiaan yang dapat dicapai di dunia ini. Plato berpendapat bahwa manusia harus mencari kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil, sedangkan Aristoteles menyatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai melalui kebijaksanaan dan kebajikan. Mereka tidak menempatkan agama tertentu sebagai dasar dari pendidikan moral, melainkan menggunakan filsafat untuk menjelaskan konsep moral mereka.

Perbedaan lain antara Al-Ghazali dan Plato/Aristoteles adalah bahwa Al-Ghazali menekankan bahwa ajaran Islam harus menjadi dasar dari pendidikan moral, sementara Plato dan Aristoteles tidak menetapkan agama tertentu sebagai dasar moral. Hal ini dapat dilihat dalam karyanya, “The Alchemy of Happiness”, di mana Al-Ghazali menggabungkan konsep moral Islam dengan filsafat Yunani untuk membentuk konsep moral yang lebih lengkap dan bermanfaat bagi manusia.

Pendidikan Moral dan Tarbiyah

Konsep pendidikan moral yang diajarkan oleh Al-Ghazali memiliki hubungan erat dengan konsep tarbiyah karena keduanya sama-sama berfokus pada pembentukan karakter dan moralitas individu. Secara sederhana, Tarbiyah adalah konsep pendidikan Islam yang meliputi aspek-aspek moral, spiritual, dan intelektual.

Dalam tarbiyah, individu dipandang sebagai makhluk yang harus diberi pendidikan dan pembinaan yang bertujuan untuk mencapai kesempurnaan akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Al-Ghazali juga menekankan pentingnya aspek spiritual dalam pendidikan moral, yang sejalan dengan konsep tarbiyah yang meliputi aspek moral dan spiritual. Oleh karena itu, konsep pendidikan moral Al-Ghazali dan tarbiyah saling berkaitan dan menjadi dasar dari pendidikan Islam secara umum.

Tinggalkan komentar